Senin, 02 November 2009

Cicak versus Buaya dan Sovereign Bond Spreads

Ada beberapa hal menarik dalam IMF Working Paper No. WP/08/259 bulan November 2008 yang berjudul “Is it (Still) Mostly Fiscal? Determinants of Sovereign Spreads in Emerging Markets” dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi, politik dan penegakan hukum di Indonesia saat ini.

Working paper tersebut menggunakan metode panel data untuk menginvestigasi determinan dari country risk premium yang diukur dengan menggunakan sovereign bond spread sebagai proxy. Country risk premium dikatakan tinggi jika sovereign bond spreads melebar, dan sebaliknya. Data yang digunakan dalam analisis mencakup data 30emerging economies dengan series mulai 1997 hingga 2007.


Klaim dari working paper tersebut adalah bahwa faktor politik dan fiskal berpengaruh pada sovereign bond spread di negara-negara berkembang. Singkatnya, kondisi politik dan fiskal yang stabil akan menurunkan sovereign bond spread, dus risiko kredit suatu negara. Sebagai tambahan, komposisi kebijakan fiskal juga berpengaruh. Belanja pemerintah yang berbentuk investasi, atau belanja modal, juga berkontribusi menurunkan spread sepanjang belanja tersebut tetap menjaga kesinambungan fiskal, antara lain ditunjukkan dengan kondisi defisit yang tidak memburuk.

Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa hal yang dapat dicermati dari kondisi Indonesia saat ini.

Telah diketahui umum bahwa dalam 5 tahun ke depan Indonesia akan menggenjot pertumbuhan ekonomi, di antaranya melalui percepatan pembangunan infrastruktur. Semua itu tentunya membutuhkan biaya. Untuk biaya-biaya yang menjadi beban pemerintah melalui APBN pemerintah nampaknya akan tetap mengandalkan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) untuk membiayai defisit. Dalam hal ini sovereign bond spread akan sangat menentukan mahal tidaknya pembiayaan APBN melalui penerbitan SBN.

Kembali ke working paper IMF di atas, kondisi politik yang stabil akan menurunkan sovereign bond spread, dan sebaliknya, kondisi politik yang tidak stabil akan meningkatkan sovereign bond spread, dus meningkatkan biaya utang.
Karut-marut permasalahan antara Cicak versus Buaya yang sedang terjadi saat ini sangat berpotensi menimbulkan gejolak politik pada saat dimana pemerintah membutuhkan pembiayaan berdana murah melalui penerbitan SBN untuk membiayai pembangunan.

Oleh karena itu, para pemimpin di republik ini perlu dengan tegas mengambil langkah-langkah penyelesaian atas kasus Cicak versus Buaya tersebut. Jangan biarkan kasus yang sudah berlarut-larut tersebut menjadi semakin berkepanjangan hingga mencapai suatu titik yang dapat menimbulkan gejolak politik, yang saat ini sudah terlihat tanda-tandanya, yang akan membuat kita semua menyesal di kemudian hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda