Jumat, 16 Oktober 2009

Berimbang Dong Liatnya

Dari detik saya baca berita berjudul Bunga Kredit Kok Susah Turun?. Di situ saya baca pernyataan pejabat BI yang mengatakan:
“Hal ini terkait dengan persepsi risiko tinggi, sektor ekonomi kita memang belum membaik hal ini yang membuat NPL (Rasio Kredit Bermasalah) terus meningkat maka perbankan belum berani menurunkan suku bunga.”
Mungkin saya salah, tapi sedekat yang saya baca, di koran, internet, majalah atau dari obrolan-obrolan dengan rekan, saya merasakan ada ketidakseimbangan melihat permasalahan. Saya perhatikan dalam permasalahan bunga kredit yang nggak turun-turun ada kecenderungan untuk lebih membebankan penyebabnya pada sektor riil yang masih berisiko. Opini yang berkembang di media sepertinya juga mendukung pendapat ini.

Di sisi lain,
sudah banyak berita-berita di media luar negeri, termasukthe prestigious The Economist magazine, yang menyatakan bahwa kondisi sosial ekonomi Indonesia stabil. Bahkan kalau nggak salah posisi Indonesia dalam publikasi Doing Business, terbitan The World Bank, juga semakin membaik. Mestinya, hal-hal tersebut mengarah pada faktor risiko yang lebih rendah pada sektor riil di Indonesia.
It takes two to tango.

Dalam permasalahan ini, ada dua pihak yaitu kreditur, secara umum perbankan, dan debitur, secara umum sektor riil. Kalau bunga kredit tidak turun-turun dan kemudian perbankan menyalahkan risiko sektor riil yang masih tinggi sebagai penyebabnya, maka seharusnya ada yang mengangkat permasalahan di sektor perbankan yang membuat bunga kredit nggak turun-turun. Apalagi dengan adanya fakta bahwa secara rata-rata bunga deposito sudah turun.

Kalau nggak salah, spread antara suku bunga kredit dan bunga simpanan salah satunya ditentukan oleh efisiensi bank. Sektor perbankan yang tidak efisien akan membuat spread tinggi, dus bunga kredit tinggi.
Apakah sektor perbankan di Indonesia sudah efisien?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda