Kamis, 26 November 2009

Kasus Bank Century dan Risiko Keuangan Negara

Oleh: Slamet Rona Ircham


Kasus Bank Century mencuat ketika Pemerintah melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS menyuntikkan modal sebesar Rp 6,76 triliun untuk menyelamatkan bank tersebut. Jumlah ini menjadi begitu besar dan menarik perhatian masyarakat karena dana penyelamatan Bank Century semula diperkirakan hanya sebesar Rp 632 miliar. Kenaikan jumlah ini mengakibatkan berbagai tudingan kepada Bank Indonesia (BI) dan Departemen Keuangan sebagai penentu kebijakan penyelamatan Bank Century pada 20 November 2008 melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

Rabu, 04 November 2009

APBN 2010, Sebaiknya Seberapa Ekspansif?

Dari baselinescenario ada kesimpulan menarik dari studi IMF tentang dampak kebijakan fiskal, dalam bentuk stimulus, terhadap resesi.
In their retrospective study of financial crises across countries, they found that nations with “aggressive fiscal stimulus” policies tended to get out of recessions 2 quarters earlier than those without aggressive policies. This is a striking conclusion – should we (or anyone) really increase our deficit further and build up more debt (domestic and foreign) in order to avoid 2 extra quarters of contraction?
Saat ini sudah mulai ada rencana untuk kembali memberikan stimulus pada perekonomian dari APBN 2010. Berdasarkan hasil penelitian IMF di atas nampaknya perlu dipikirkan masak-masak rencana tersebut. Paling tidak karena empat hal yang harus dipertimbangkan terkait seberapa ekspansif APBN 2010.

Senin, 02 November 2009

Cicak versus Buaya dan Sovereign Bond Spreads

Ada beberapa hal menarik dalam IMF Working Paper No. WP/08/259 bulan November 2008 yang berjudul “Is it (Still) Mostly Fiscal? Determinants of Sovereign Spreads in Emerging Markets” dalam kaitannya dengan kondisi ekonomi, politik dan penegakan hukum di Indonesia saat ini.

Working paper tersebut menggunakan metode panel data untuk menginvestigasi determinan dari country risk premium yang diukur dengan menggunakan sovereign bond spread sebagai proxy. Country risk premium dikatakan tinggi jika sovereign bond spreads melebar, dan sebaliknya. Data yang digunakan dalam analisis mencakup data 30emerging economies dengan series mulai 1997 hingga 2007.

Jumat, 16 Oktober 2009

Berimbang Dong Liatnya

Dari detik saya baca berita berjudul Bunga Kredit Kok Susah Turun?. Di situ saya baca pernyataan pejabat BI yang mengatakan:
“Hal ini terkait dengan persepsi risiko tinggi, sektor ekonomi kita memang belum membaik hal ini yang membuat NPL (Rasio Kredit Bermasalah) terus meningkat maka perbankan belum berani menurunkan suku bunga.”
Mungkin saya salah, tapi sedekat yang saya baca, di koran, internet, majalah atau dari obrolan-obrolan dengan rekan, saya merasakan ada ketidakseimbangan melihat permasalahan. Saya perhatikan dalam permasalahan bunga kredit yang nggak turun-turun ada kecenderungan untuk lebih membebankan penyebabnya pada sektor riil yang masih berisiko. Opini yang berkembang di media sepertinya juga mendukung pendapat ini.

Di sisi lain,

Senin, 12 Oktober 2009

Stimulus dan Kredibilitas Pemerintah

Pada akhirnya, seluruh kebijakan ekonomi itu ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan rakyat itu seperti apa? Sulit sekali menjawabnya dengan tepat karena preferensi orang atas kesejahteraan yang berbeda-beda. Akan tetapi, proxy paling mudah yang bisa digunakan adalah bahwa jika seseorang itu memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar dirinya dan keluarganya, maka secara umum dapat dikatakan orang itu telah sejahtera secara fisik.

 

Oleh karena itu, pengangguran dan inflasi dikatakan sebagai masalah utama dalam perekonomian yang harus dicarikan solusinya karena pengangguran mengakibatkan seseorang tidak memiliki penghasilan sedangkan inflasi secara diam-diam menggerogoti penghasilan, dus daya beli kita.

 

Pada masa krisis ekonomi seperti sekarang ini, semua negara seperti berlomba-lomba untuk memberikan stimulus pada perekonomian mereka, yang pada akhirnya bertujuan untuk menurunkan tingkat pengangguran. Gambar berikut menunjukkan besaran stimulus dari beberapa negara.

 

stim

Stimulus tersebut pada dasarnya bertujuan memulihkan daya beli perekonomian untuk mengangkat perekonomian dari resesi. Sedangkan indikator utama yang menentukan stimulus perlu diteruskan atu tidak adalah tingkat pengangguran.

Stimulus, baik berupa belanja pemerintah atau tingkat bunga yang rendah, baru dapat dihentikan apabila indikator yang menunjukkan tingkat pengangguran sudah kembali ke kondisi non krisis.

Tingkat pengangguran itu sendiri tidak mungkin berada pada angka 0 (nol) karena adanya beberapa sebab berikut:

1. Frictional unemployment
Karena selalu ada orang yang berganti pekerjaan, dimana ketika dalam proses mencari pekerjaan baru mereka menganggur.

2. Structural unemployment
Terjadi karena skill mereka tidak sesuai dengan lowongan pekerjaan yang tersedia, misalnya karena industri yang sesuai dengan skill mereka sedang kolaps.

3. Seasonal unemployment
Terjadi karena faktor musiman, misalnya pekerja di sektor pertanian, konstruksi dan pariwisata.

4. Residual unemployment
Ini mencerminkan adanya orang-orang yang memang tidak mungkin masuk ke dunia kerja.

Sebagai gambaran, saat ini terjadi perdebatan di US tentang apakah sudah saatnya stimulus dihentikan, yaitu dengan mulai menaikkan tingkat suku bunga. Banyak yang menolak dengan argumen stimulus yang ada, terutama dalam bentuk government spending, masih belum menunjukkan hasil yang memuaskan dalam menekan angka pengangguran. Sehingga menaikkan tingkat suku bunga, ketika tambahan belanja sulit dilakukan karena harus melalui parlemen, tidak boleh dilakukan saat ini.

 

Gambar berikut dari situs ini menunjukkan proyeksi tingkat pengangguran di US dengan dan tanpa stimulus, serta kondisi aktual tingkat pengangguran.

stimulus-vs-unemployment-september-dots

 

Advokat stimulus menilai bahwa kondisi aktual pengangguran terus meningkat walaupun sudah ada stimulus karena pada saat tingkat bunga sudah nol maka satu-satunya yang dapat diharapkan adalah belanja pemerintah. Namun, oleh beberapa pihak, misalnya Paul Krugman, stimulus dalam bentuk belanja pemerintah dianggap kurang besar. Dengan demikian perlu diberikan tambahan stimulus dalam bentuk belanja untuk mengembalikan tingkat pengangguran pada kondisi normal sebelum mulai menaikkan tingkat bunga.

Namun demikian, pihak yang anti stimulus berpendapat, kondisi aktual tingkat pengangguran yang terus meningkat walaupun sudah diberikan stimulus menunjukkan bahwa stimulus tidak menyelesaikan masalah, bahkan membuat masalah baru karena melonjaknya defisit yang dalam jangka menengah menurut mereka dapat menyebabkan inflasi yang tinggi, yaitu masalah utama ekonomi selain pengangguran.

Nampaknya hanya waktu yang bisa menjawab mana yang benar, pihak pro stimulus atau yang kontra. Namun terlihat saat ini pihak pro-stimulus lah yang sedang menguasai opini dalam kebijakan perekonomian. Terlihat dari gambar di atas yang menunjukkan bahwa hampir semua negara di dunia memberikan stimulus pada perekonomiannya. Meminjam istilah Milton Friedman, “We are allKeynesian now“.

 

Bagaimana kondisi di Indonesia?

 

Mmmm … dari beberapa berita yang saya baca akhir-akhir ini ternyata stimulus yang diberikan dalam bentuk belanja tidak terserap dengan baik dan stimulus dalam bentuk fasilitas pajak tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pengusaha. Namun ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh positif dan tingkat pengangguran terbuka justru turun dari sekitar 9,39 juta pada Agustus 2008 menjadi 9,25 juta pada Februari 2009.

Apa itu berarti perekonomian Indonesia bisa membaik dengan sendirinya tanpa intervensi pemerintah dalam bentuk stimulus? Sulit menjawabnya. Mungkin, pengumuman pemerintah akan adanya program stimulus berhasil mengubah ekspektasi masyarakat terhadap perekonomian Indonesia dan kemudian ekspektasi itu menimbulkan optimisme yang pada akhirnya berhasil menyelamatkan perekonomian Indonesia dari krisis global saat ini.

 

Dan itu berarti pemerintahan SBY-JK adalah pemerintahan yang kredibel. Mudah-mudahan pemerintahan SBY-Boediono bisa menjadi lebih kredibel, salah satunya dengan memastikan susunan kabinet yang solid dan profesional.

 

Taken from: http://rzulfadin.wordpress.com/2009/10/12/stimulus-pengangguran-dan-kredibilitas-pemerintah/